Bumi Kaya makmur, padi berlimpah, aneka ragam tanaman dan satwa semarak alam berseri. Kandungan minyak, timah batubara, emas tembaga… tertanam menelusur alur nadi bumi… semerbak nafas umat bergenerasi tumbuh mekar… buah tuaian arif dalam pelukan alam.
Aura semerbak mengalun hingar mengundang syahwat para penggerus yang rakus, penggusur binal demi nikmat diatas aurat bumi dan manusia. Berbondong gelak serakah membawa fatwa tentang kemewahan, deras laju kemajuan dan janji basi tentang kemakmuran…
Syahwat penggerus memadu kasih kepada penguasa pribumi demi ambisi atas negeri.. semangat penggusur berpadu anyir bersama pemupuk harta gila kuasa… menistakan keagungan arif tata budaya yang terpelihara turun temurun
Inikah alamat anak negeri??? …. Terombang ambing dinistakan, mata ditutup kaki dirantai… dilecut mengkerut paksa kuasa.. serta gulungan lembar putaran uang seiring irama gerak roda pasar modern. Berputar liar demi ambisi arus kooptasi.. korporasi mengangkang – telanjangi bumi dan anak negeri hingga kurus terhisap… bahkan nafaspun harus membeli.
Lelucon basi yang berulang-ulang diputar setiap rezim penguasa negeri.. lelucon dari kaset birokrasi mengalahkan jerit tangis bayi akibat kering air tetek sang Ibunda, Lenguh nafas kerja Sang Bapak yang dihargai murah…Keringat Kaum Muda atas bangunan system pengetahuan yang dipalsukan dari kenyataan.. Generasi Baru yang dibentuk untuk tunduk pada lingkar mesin penjaga aras… kolonialisme-imperialisme
Lantas… berpasrah nasib adalah pilihan? Tetap menyerah pada pundi-pundi kuasa korporasi dan membiarkan kelak anak cucu memaki karena baginya hanya tersisa sampah industri berbau tengik beserta kerak bumi… panas gersang tanpa nutrisi asri..
Tentu tidak saudaraku… nasib bukan ditangan orang orang berseragam, bukan diatas lipstick dan tanda tangan bermaterai sekelompok orang berbaju sutra dan bersepatu licin.
Takdir masa depan ditangan kita.. diatas kokoh pijakan keyakinan dan nurani bersih demi keberlangsungan peri kehidupan manusia dan alam semesta… keadilan adalah hak !!! melawan segala bentuk kebatilan adalah kewajiban… Mandat hidup kita sebagai khalifah peradaban… Bangkitlah melawan !!! karena mundur dan tunduk tertindas bukan pilihan…
-MayDay’06 (Teaterical Script), Palembang-