Stuffborn !!!

August 27, 2007

Dimana hiburan untukku (tentang kegundahan)

Filed under: Folk Screen — populiste @ 12:46 pm

picasso-2.jpg

Mana hiburanku…gambar..suara untukku

Gambarmu ternyata sesak…. dipenuhi dengan kriminal …zat-zat buatan…pelarut syaraf tubuh…

Itu yang kudapati sehari-hari…

Gambarmu…suaramu…

semarak kemewahan…

foya-foya…pesta pora…

ganti pasangan….berulang-ulang…

Suaramu…semakin hari…menghanyut…

membuat lupa berfikir…lupa bertanya-tanya

hiburanku…menjadi bangunan – bangunan kokoh…

semua untuk dagangan..

hiburanku … berlubang-lubang….

kian hari kian menganga…tak tertampalkan…

Mana hiburan untukku…

semua berubah jadi mahal….tuk’ kudapati

Gambarmu….suaramu….penuh..sesak…

peletak-peletik …plintat-plintut….dengan pantat.

Dimana hiburan untukku…

tuk’ menjawab kegundahanku….

Kematian umat,….bumi…..

jadi hiburan lumrah untukku….

lebih lumrah.. dari nasi….

yang kian hari kian tinggi tuk’ kugapai…

Hiburan untukku adalah ketakutan….

milikku yang hilang…yang akan hilang…

kado untuk anakku…istriku…dan anak cucuku…

ketakutan…kado milikku….dari moyangku…

ditukar….dijadikan dagangan…

dengan materai…dan…

lambang-lambang kebesaran….

Bahkan….pada saat aku tidur…..

mimpi…mimpiku terenggut… tanpa sepengetahuanku…

hiburanmu palsu….membuaiku…. demi dagangan….

dimana hiburan untukku….

Untuk anakku…istriku…dan anak-cucuku.

fr.van gooh

Karyaku…Kutulis, kukumpulkan…untukmu..untukku…kita berbagi”(Tegil,2003)

http://methanafora.blogs.friendster.com/sunflower/

April 13, 2007

PAst Out of Pasta

Filed under: Folk Screen — populiste @ 7:30 am

past-out-of-pasta.jpg

frankeinsist….

tarian pembuluhku….semilir… menarik masyuk ke belantara..

tinggi terbang kecipak mengayun… menguncup mengembang menghela melambai mengagungkan……… menatap… mengkeranda,,,,,,,,,

tubuh ini pucat………..tarian tak lagi berirama. bisa jadi iramanya berbeda. kau mengingatkanku.

ulir kuncup itu semakin indah. tarianmu samar…

dimana pedang langit… anakmu belum lagi lelap.

ufuk pagi menjelma…..merangsang nyanyian kepak burung burung

Lalu musik semakin keras.

pagi ini aku ingin flute……. lengkingannya… hingga telingaku terangkat, mengalir menusuk hingga ke lekukku berkeringat… Lalu dadaku mengempis hingga alur lirih nafasku berketukan.

Daun kelapa masih saja gemerisik… Serabut akar menggurat disanalah aku hinggap.. sejenak melukis gelombang dan pori pasir, jejak, rangka dan sel mati potongan kayu.

Sore ini jingga menjelaga.. ikan menjauh dari permukaan.. hingga neon memanggil memapah keikhlasan tuk berbakti.

Aair semoga tak jadi pekat, kuminum dengan akal.

Ruh makhluk memancang, angin ini dingin. kutabur daun lipatan..

Aku masih mau berguru.. Warna warni memandu, jejak tumit alur pasir..

Menatap bintang, bulan dan matahari… mesra cumbui kehidupan, hingga nafas tak mengalir di arus tubuh….

nyanyian itu membuatku tenang. http://methanafora.blogs.friendster.com/sunflower/

April 11, 2007

Kampus Mati

Filed under: Folk Screen — populiste @ 6:43 pm

(Ayu Risya Dominata Mahasiswa FISIP UNSRI, Anggota MASOPALA)

“Kampus mati!
“Apa???!
‘Kampus sudah mati. Ucap Fa datar mengulangi.
“Kau bercanda Fa, kau pasti bercanda!!??
“Aku serius.
“Maksudmu ?
‘ya, kampus sudah mati.
“Inalillahiwainailaihirojiun! Kata apa lagi yang dapat aku ucapkan selain kata itu.
‘Kau munafik!
“Siapa yang kau maksud dengan kata itu Fa ?
‘Kau!
“Aku ???
“ya, kau!
“Mengapa ? Mengapa kau sebut aku begitu??
“Karena kau tidak pernah berusaha menyelamatkan kampusmu ketika ia masih hidup. Kau tidak berusaha mencarikannya obat untuk kesembuhannya. Kau bahkan pergi dan tak peduli ketika ia diambang kematian…
“Kau sudah menuduhku Fa! “Kau pikir aku bahagia dengan kematiannya??!! Akupun sedih Fa! sedih dengan kematiannya…
“Busyit dengan semua rasa sedihmu!!! Bagiku kau tetaplah munafik dan tak lebih dari seorang pecundang!
“Hei, Jaga mulutmu Fa!! Aku mahasiswa dikampus ini. Kampus ini kampusku sendiri. Setiap hari aku bercengkrama dengannya. Aku lebih terluka dari pada kau atas kematian ini.
‘Aku tak percaya!
‘Itu urusanmu Fa, yang pasti aku merasa sedih saat ini.
‘Sikapmu ini membuatku tambah percaya bahwa kau munafik. Kau tidak benar-benar sedih karena kau tidak benar-benar menyayangi kampusmu. Kau egois. Kau hanya peduli dengan dirimu sendiri. Buktinya kau hanya sibuk memikirkan rasa sedihmu sendiri tanpa mempedulikan kampus kita yang telah terlepas nyawanya ini.
‘jadi kau ingin menyalahkan aku atas kematian ini ??!
“Siapa lagi, Kau mahasiswa dikampus ini, aku yakin kau telah banyak membuatnya menderita. Itulah sebabnya ia mati.
Mereka berpisah setelah pertengkaran itu, pergi meninggalkan kampus yang telah mati dalam sepi.

***

Hari berganti hari, tahun berganti tahun. Namun sebab kematian kampus tak jua ditemui. Semua mahasiswa/wi masih sibuk berspekulasi tentang penyebab kematiannya. Bagaimana cara kematiannya dan sejak kapan. Semua sibuk beropini, berargumentasi dan mengomentari. Mereka bertengkar. Saling bersitegang dan saling menyalahkan. Kampus yang telah mati semakin mati dalam kematiannya.
Sejak kampus mati, semua orang dikampus ikut mati. Penghuni kampus yang ada saat ini hanya sampah. Sampah yang berserakan terdiri dari bangkai dan arwahnya. Arwah-arwah penghuni kampus berkonsentrasi dengan diri mereka sendiri. Menjalani kesibukan mereka sebagai arwah yang tak bernyawa. Bergosip…, mengobrol…, membuat tugas…., menjilat…, pacaran…

Udara berhembus pelan menggerakkan pucuk-pucuk pohon dengan gerakan yang hampir tak kelihatan. Debu-debu tanah yang halus terbang berhamburan. Kampus yang sendiri siang itu begitu sunyi, sepi. Ia telah mati. Dan tetap akan mati. Tak mungkin ia hidup lagi. Hanya saja, ada satu hal manis untuk dikenang, yaitu kenyataan indah bahwa kampus pernah hidup.
Siang itu kampus yang mati begitu sepi, tak ada satupun nafas-nafas kehidupan yang tersisa. Semua telah mati. Sebuah siluet putih tampak dipesisir perpustakaan besar. Seperti bayangan kematian. Tapi tunggu dulu, bayangan itu memancarkan cahaya putih. Cahaya putih adalah unsur kehidupan. Tetapi sayangnya, cahaya itu begitu redup dan hampir mati tertiup angin dan gulungan gelombang kematian.
Fa duduk diperpustakaan besar siang itu, diam membisu dalam kesunyian dan kesendirian. Mengenang banyak hal, banyak kejadian, pengorbanan, harapan dan semangat perjuangan yang dulu pernah ada. Pernah ia rasakan ketika kampus masih hidup. Ia berkonsentrasi dengan pikirannya sendiri…

“Nggak demo Fa??
“Fa mengangkat wajahnya dan menatap senyum lembut itu…
“SIAPA KAU??!!!
‘Aku Mi, Fa, temanmu….
‘Fa hanya diam, perasaan hampa itu dipendamnya dalam hati. Fa memilih diam, Fa tahu itu bukan Mi temannya anak kedokteran yang dulu pernah begitu kritis dan cerdas dalam berjuang. Itu bukan Mi yang ia kenal dulu. Itu hanya siluet Mi. Fa tahu Mi sudah mati. Mati dan membusuk bersama-sama dengan kampus yang mati ini. Itu hanya arwah Mi. Mi sudah mati
Fa benar, Mi pun kemudian menghilang.
Seketika setelah Mi pergi, suasana kembali sunyi. Secercah bayang-bayang berkelabat dimatanya. Fa melihat Mi sedang ber-orasi, membawa bendera reformasi dan menyanyikan yel-yel perjuangan dengan matanya yang terbakar kobaran api semangat seorang mahasiswa. Tiba-tiba ia melihat Mi temannya dulu, dengan jilbab panjang terjurai, lembut, feminin, namun tak gentar dengan cacian dan hasutan para penguasa busuk bahkan cabikan sinar matahari membara yang menyengat sekalipun.
“Hati-hati, hatu-hati…provokasi!!!
“Hati-hati, hatu-hati…provokasi!!!
“TOLAK KENAIKAN SPP!!
“TOLAK KOMERSIALISASI KAMPUS!!
“TOLAK KOMERSIALISASI AIR!!
“SEJAHTERAKAN RAKYAT MISKIN!!
“HIDUP MAHASISWA!!!!

“Ah! Fa mendesah berat. Bayangan itupun seketika menghilang. Pergi. Sosok kampus mati yang sunyi yang kini kembali.
***
Fa menelusuri jalanan yang begitu sepi, sunyi.. Angin bertiup kencang, pasir dan debu jalanan beterbangan. Fa merapatkan tangannya ke dada, sesekali kepunggung dan bahu. Menahan jilbab merah jambunya dari terpaan angin. Fa berjalan pelan, disusurinya jalan yang panjang dengan sabar. Fa berhenti tepat didepan papan plang besar bertuliskan “Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik” kampus yang sudah begitu ia kenal. Fa mendesah, “ah, sumber kehidupan! Sumber kehidupan yang kinipun telah mati, kering kerontang dan kelam. Yang Fa inginkan saat itu hanya pergi. Tak sanggup ia membuka kembali kenangan perjuangan yang terjalin bersama kampus ini. Kampusnya. Fa ingin pergi. Melupakan semuanya, meninggalkan semuanya. Aroma kematian yang begitu sunyi, sepi.
Fa sudah ingin melangkah pergi, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti oleh sesosok bayangan dikoridor… Bayangan seorang mahasiswa berambut gondrong terlihat asyik berkonsentrasi menekuni koran digenggamannya. Satu lagi mahasiswa muncul disampingnya juga sedang membaca koran, satu lagi mahasiswa muncul juga sedang membaca koran, satu lagi mahasiswa muncul juga sedang membaca koran, satu lagi, satu lagi, satu lagi. Sampai sepanjang koridor kampus penuh dengan mahasiswa berambut gondrong dan dengan celana seadanya yang sedang membaca koran. Mereka terlihat begitu asyik menekuni topik hangat dalam koran yang dibacanya. Tak ada kata, tak ada suara….
Bayangan itu terus bertambah, bertambah, dan bertambah banyak sampai seluruh kampus terlihat ramai. Kampus terlihat hidup kembali.
Namun tiba-tiba angin berhembus, lalu semua bayangan itupun hilang

Fa melangkah lebih dekat, tersisa seorang lelaki, lelaki yang berambut gondrong berjuntai-juntai, bercelana jeans belel sobek-sobek. Ikat kepala putih bertuliskan “Reformasi” melingkar dikepalanya. Tangan kanannya membopong bendera yang besar, membuatnya seperti reformis sejati.
“Hidup Reformasi Dinda!!! dengan pedenya lelaki itu memanggil Fa dinda.
“Reformasi harus ditegakkan. Reformasi adalah suatu gerakan pembaharuan yang bertujuan mengkoreksi berkerjanya berbagai institusi dan berusaha menghilangkan kebobrokan yang dianggap sebagai sumber “Malfunction”-nya suatu institusi dalam suatu tata sosial yang ada. Mari berjuang dinda!! Perjuangan belum berakhir. Perjuangan harus dilanjutkan. Kitalah penggeraknya dinda. Jangan khianati perjuangan kita!!
Fa tercenung menatap lelaki itu. Tetap diam tanpa suara. Namun didadanya bergemuruh rasa senang. Ia merasa kampus telah hidup kembali.
“Mengapa kau hanya diam dinda? Apa kau malas berjuang ???
“Aku tak mengerti apa yang kau maksudkan.
‘Kau tak mengerti ???!! Apa kau mahasiswa???
“Ya… aku mahasiswa.
‘Kalau begitu, kau munafik!
“Mengapa kau sebut aku begitu?
“Karena kau tak tahu siapa dirimu…
Lelaki itupun pergi. Meninggalkan Fa dalam kesendirian.
‘HEI, TUNGGU DULU!!! Tolong jelaskan mengapa kau sebut aku tak tahu siapa diriku????
“HEI BERHEEENTI!!!!!
Sia-sia… lelaki itu telah menghilang bersama angin….

***

Gerimis membasahi bumi yang mati. Fa masih disana, dikampus mati itu. Ia berlari-lari mencari lelaki berikat kepala reformasi, bercelana belel, dan rambut panjang yang menjuntai. Lama…Lama…Fa mencari, tapi yang ada hanya sepi. Sunyi. Lalu bagaimana lelaki itu? TAK ADA jawabnya.
Dihamparan jalan beraspal yang sepi, Fa berhenti. Ia terpekur dijalanan. Fa tersedu. Ia menangisi kepergian nafas-nafas kehidupan itu. Yang telah lama ia cari, ia rindukan. Ia menyesal membiarkan secercah harapan hidup itu pergi. Ia frustasi, ia putus asa.
Tiba-tiba diantara kesunyian…. terdengar derap langkah yang keras menghentak-hentak telinga. Lalu entah dari mana disebelah kanan terlihat bergelombang-gelombang mahasiswa berjalan kearahnya. Fa gemetar, Fa linglung, takut, tapi juga riang. Gelombang mahasiswa itu berhenti. Rupa-rupa mahasiswa tampak dihadapannya kini. Tak hanya anak mushola, BEM, MAPALA, Pers Mahasiswa, Teater, Pramuka, Tancho, Paduan suara, Kajian Mahasiswa, Catur, DPM, LDK, Sospol, Hukum, Fkip, Mipa, Nutrisi Makanan Ternak Pertanian, Kedokteran, Keperawatan, Kesehatan Masyarakat, Ekonomi, Teknik….
semua….
Ketika Fa melihat lebih dekat, ternyata tak hanya mahasiswa masa ini yang berkumpul disana, tetapi juga seluruh pemuda-pemuda dan mahasiswa-mahsiswa yang pernah hidup pada masa sebelum dan pasca Indonesia merdeka. Sostroamijoyo, Sho Hok Gie dengan berbagai atribut perjuangan tampak gagah membawa spanduk dan bendera dalam kekompakan. Mata mereka memancarkan semangat perjuangan yang besar, seperti kobaran api.
Sigit, pemimpin barisan dengan juntaian rambutnya yang panjang, ikat kepala warna putih, mata yang tajam, memandang nyalang ke arah Fa. ..Fa gemetar.
Ini lebih dari Jurasic Park atau The Lost World! Dua film yang membuat Steven Spilberg makin mengukuhkan namanya dalam barisan sutradara hebat.
Ada teriakan perjuangan yang begitu lantang dan meyakinkan dari segerombol mahasiswa. Terutama yang berada paling dekat dengan korlap. Begitu menakjubkan pemandangan ini. Begitu menakjubkan menyaksikan segerombolan mahasiswa dari berbagai spesifikasi menyatu dalam kebersamaan perjuangan. Bahkan gadis-gadis dingin dan tenang semasa hidup seperti anak kedokteran, anak keperawatan, anak Fkip, anak Mushola mahasiswi-mahasiswi kedokteran berkerudung panjang berjubah putih dan berkacamata ikut menggabungkan diri mereka dalam lautan mahasiswa, meneriakan yel-yel perjuangan dibawah terik mentari. Yang pada masa kuliah jaman ini, mungkin hanya bisa dilihat dalam mimpi.
Dalam sebuah mushola terlihat bayangan beberapa orang mahasiswa sedang berkoordinasi. Seorang Ukhti dibantu temannya sedang menyusun Majalah Dinding. Seorang Akhi sedang mengecat Mushola. Seorang ukhti berkerudung panjang berjalan tergesa….
“Assalamualaikum Ukhti!” Seorang temannya menyapa.
‘Waalaikumsalam!”
“Apa aktivitas kita minggu ini Ukthi?”
“Sore ini jam 4 dimasjid Nabawi temu Ustaz Mansur, Malam Mabit di Al-Furqon Qiyamulail, besok pagi jumpa penulis Islami Ustaz. Habiburahman El Shirazy di Gor, minggu depan Tafakur alam di Kebun teh, Selasa bedah buku, Rabu technical meeting calon da’i pus (da’i kampus), Kamis penyuluhan di desa Ranai-ranai, Jumat Bakti Sosial ke panti Asuhan Al-Munawaroh, Sabtu Aksi, Minggu tebar Artikel, Senin Lomba Hafalan Al-quran….
“Syukron Ukhti!
“Syukron.
Angin berhembus, lalu siluet Ukhti dan temannya itupun menghilang….
Mushola itu kembali sunyi, sepi. Hanya rerumputan bergoyang disekitarnya.

Fa menoleh 30 derajat arah kiri…ada markas anak Mapala. “Fa mendengus, ah anak Mapala, “Yang bisanya Cuma mabuk-mabukkan dan menggoda wanita….Fa berbisik dalam hati.
Fa menatap lekat ketika didapatinya markas itu dipadati segerombolan mahasiswa yang duduk tenang. Semua menatap kedepan, kearah satu sumber suara, suara lelaki yang terdengar begitu berwibawa diantara berjuta anak Mapala yang pernah ada.
“Oh, sedang ada rapat rupanya….
Disudut ruangan, seorang mahasiswa lain berkonsentrasi menyelesaikan buku bacaannya yang bertitle “Musuh Peradaban”. Sementara itu, ditengah ruangan segerombol mahasiswa pencinta alam sedang mengkonsep rencana pendakian dan ekspedisi. Dipapan tulis dalam ruangan tertulis agenda….

1. Ekspedisi Putri ke Rinjani 10 April
2. Kunjungan ke Mapala UI 11 April
3. Hari Bumi 22 April
4. Festival Jingga 23 April
5. Sosialisasi semangat Enviromentalist 1 Mei
6. Lomba Kreasi Produk Daur Ulang 2 Mei
7. Pelatihan Fotografi 10 Mei
8. Parade Panjat Dinding 15 Mei
9. Pelatihan Lingkungan Hidup 21 Mei
10. Observasi Tipikal Hutan Kalimantan 31 Mei
11. Penyuluhan Fungsi keseimbangan hidup dengan alam 1 Juni
12. Ekspedisi Susur Pantai 10 Juni
13. Sapa Rimba Papua 15 Agustus

Mahasiswa dalam ruangan itu berdiskusi, bicara soal bangsa, Negara, nasib anak negeri, perannya sebagai mahasiswa, Agen Of Change, Sosial Control, Iron Stock. Semua beropini, semua berargumentasi, bersama saling peduli mencari solusi. Fa kemudian menengok kehalaman, beberapa mahasiswa mengarahkan kamera-kamera lensa panjang kearah semut, daun, dan objek-objek liar yang rupawan….
“Dari kejauhan terdengar lantunan lagu-lagu perjuangan.
“Naik…naik…SPP naik, Tinggi…tinggi sekali….
“Naik…naik…BBM naik, Tinggi…tinggi sekali….
‘Kiri..Kanan…kulihat banyak anak jalanan menangis….
‘Kiri..Kanan…kulihat banyak anak petani menangis….

Tiba-tiba Semua mahasiswa terbangun, seketika mereka berlarian mengejar sumber suara…..mereka bergabung dalam keramaian, dalam semangat perjuangan, untuk rakyat, untuk saudara sebangsa….
Angin kemudian kembali berhembus. Bayangan anak Mapala dan aktivitasnya itupun pergi, menghilang….
Kini kampus kembali sunyi. Mati. Tanpa suara, tanpa kata.

Untuk sahabat yang kehilangan Idealisme
mari kita kembali kejati diri kita, MA-HA-SIS-WA!!
Salam rindu, dari sahabat, Ayurisya

March 13, 2007

Le Bas Korporasi

Filed under: Folk Screen — populiste @ 7:23 pm

Bumi Kaya makmur, padi berlimpah, aneka ragam tanaman dan satwa semarak alam berseri. Kandungan minyak, timah batubara, emas tembaga… tertanam menelusur alur nadi bumi… semerbak nafas umat bergenerasi tumbuh mekar… buah tuaian arif dalam pelukan alam.

Aura semerbak mengalun hingar mengundang syahwat para penggerus yang rakus, penggusur binal demi nikmat diatas aurat bumi dan manusia. Berbondong gelak serakah membawa fatwa tentang kemewahan, deras laju kemajuan dan janji basi tentang kemakmuran…
Syahwat penggerus memadu kasih kepada penguasa pribumi demi ambisi atas negeri.. semangat penggusur berpadu anyir bersama pemupuk harta gila kuasa… menistakan keagungan arif tata budaya yang terpelihara turun temurun

Inikah alamat anak negeri??? …. Terombang ambing dinistakan, mata ditutup kaki dirantai… dilecut mengkerut paksa kuasa.. serta gulungan lembar putaran uang seiring irama gerak roda pasar modern. Berputar liar demi ambisi arus kooptasi.. korporasi mengangkang – telanjangi bumi dan anak negeri hingga kurus terhisap… bahkan nafaspun harus membeli.

Lelucon basi yang berulang-ulang diputar setiap rezim penguasa negeri.. lelucon dari kaset birokrasi mengalahkan jerit tangis bayi akibat kering air tetek sang Ibunda, Lenguh nafas kerja Sang Bapak yang dihargai murah…Keringat Kaum Muda atas bangunan system pengetahuan yang dipalsukan dari kenyataan.. Generasi Baru yang dibentuk untuk tunduk pada lingkar mesin penjaga aras… kolonialisme-imperialisme

Lantas… berpasrah nasib adalah pilihan? Tetap menyerah pada pundi-pundi kuasa korporasi dan membiarkan kelak anak cucu memaki karena baginya hanya tersisa sampah industri berbau tengik beserta kerak bumi… panas gersang tanpa nutrisi asri..

Tentu tidak saudaraku… nasib bukan ditangan orang orang berseragam, bukan diatas lipstick dan tanda tangan bermaterai sekelompok orang berbaju sutra dan bersepatu licin.

Takdir masa depan ditangan kita.. diatas kokoh pijakan keyakinan dan nurani bersih demi keberlangsungan peri kehidupan manusia dan alam semesta… keadilan adalah hak !!! melawan segala bentuk kebatilan adalah kewajiban… Mandat hidup kita sebagai khalifah peradaban… Bangkitlah melawan !!! karena mundur dan tunduk tertindas bukan pilihan…

-MayDay’06 (Teaterical Script), Palembang-

Blog at WordPress.com.